Alkisah, di sebuah desa bernama Sukamajukaler Indihiang, tepatnya di daerah Parakanhonje atau yang juga dikenal dengan sebutan Parhon, terdapat sebuah gunung yang menjadi saksi sejarah dalam perlawanan terhadap gerombolan. Gunung ini kini dikenal dengan nama Gunung Waribonto.
Dahulu, sebelum dikenal sebagai Gunung Waribonto, masyarakat menyebutnya sebagai Gunung Asepan. Hal ini karena bentuk gunung tersebut menyerupai alat penanak nasi tradisional, aseupan, yang dibalik. Namun, sebuah peristiwa penting mengubah nama dan sejarahnya.
Pada suatu malam yang sunyi, saat warga tengah terlelap, tiba-tiba terlihat kobaran api membakar bagian gunung tersebut. Kejadian itu membuat warga geger. Kala itu, wilayah tersebut sedang rawan oleh kehadiran gerombolan bersenjata yang kerap menebar teror.
Menjelang waktu magrib, seperti biasa, dilakukan pembagian jadwal ronda malam. Pada malam itu, yang kebagian tugas ronda adalah Pak Aswari, Pak Ibon, Ento, dan Pak Sunarya. Pak Ibon dan Pak Sunarya merupakan anggota militer yang biasa bertugas di sekitar Pagerageng setiap sore. Karena kelelahan, keduanya tertidur lebih dulu.
Pak Ibon: “Pak, ayo kita tidur duluan…”
Pak Sunarya: “Ayo, Pak…” (sambil rebah di samping Pak Ibon)
Sementara itu, Pak Aswari dan Ento berjaga. Ento masih sangat muda, baru berusia belasan tahun. Tiba-tiba, ia melihat kilatan cahaya aneh di arah barat, utara, dan selatan. Ia merinding.
Ento: “Ihhhh… apaan tuh?! Kok ada cahaya di sana?!”
Belum sempat berpikir panjang, ia mendengar suara patahan bambu di atas gardu tempatnya berjaga. Terdengar juga butiran pasir jatuh dari atas, meski langit malam begitu cerah diterangi bulan purnama.
Sreeeekkkk…! (bunyi mengagetkan dari atap)
Ketakutan, Ento segera membangunkan teman-temannya.
Ento: “Pak… Pak… di luar ada cahaya! Ada suara aneh juga di atap gardu! Bangun, Pak… bangun…!” (dengan napas ngos-ngosan)
Namun, mereka tidak menggubris.
Pak Aswari: “Ah, palingan cuma suara kucing!”
Pak Sunarya: “Iya, mungkin tupai jatuh dari pohon!” (sambil kembali tidur)
Ento semakin gelisah. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah-langkah mencurigakan—gerombolan mulai mendekat, memecah keheningan malam.
Ento dan Ibon membagi tugas. Ibon tetap berjaga di gardu, sedangkan Ento turun ke bawah untuk memberi tahu warga. Namun, belum sampai ke tujuan, gerombolan sudah menghadangnya.
Ento: “Tolong… tolong…!” (berteriak sambil mengangkat tangan)
Gerombolan: “Mau ke mana kamu?!” (sambil mengacungkan senjata)
Ento: “Ampun… ampun…” (gemetar, dengan napas tersengal)
Saat Ento berbalik untuk lari, gerombolan itu langsung menembaknya.
Dor! Dor! Dor! (suara tembakan terdengar membelah malam)
Pak Sunarya yang mendengar suara tembakan segera bangun dan mencoba menyelamatkan Ento. Namun sudah terlambat. Dalam kekacauan itu, Pak Sunarya pura-pura mati, tubuhnya berlumuran darah. Namun ia sebenarnya masih hidup, meskipun sempat tertusuk bayonet hingga ke leher. Senjatanya hilang, tetapi nyawanya selamat.
Tak lama kemudian, bantuan datang. Pak Sunarya berhasil diselamatkan. Namun, Pak Aswari, Pak Ibon, dan Ento meninggal dunia. Ketiganya langsung dimakamkan malam itu juga di kaki gunung.
Ento sempat bertahan tiga hari, karena peluru masih bersarang di tubuhnya, namun akhirnya ia mengembuskan napas terakhir dan dimakamkan berdekatan dengan Pak Aswari dan Pak Ibon. Untuk menghormati ketiganya, warga sepakat menamai gunung tersebut dengan nama WARIBONTO, yang merupakan gabungan dari nama Aswari, Ibon, dan Ento.













