Di sekolah, nama Nursanada bukanlah nama asing. Semua guru dan siswa mengenalnya sebagai anak yang pandai bernyanyi. Suaranya merdu, mampu membuat siapa pun yang mendengar terhanyut. Setiap kali ada lomba, sekolah selalu mengirimkan Nada, dan sering kali ia pulang membawa piala. Senyumnya yang manis selalu menyertai setiap penampilan.
Namun, hanya sedikit yang tahu, di balik suara indah dan senyumnya, Nada menyimpan luka yang tak pernah sembuh.
Sejak kedua orang tuanya bercerai, dunia Nada berubah. Rumah yang dulu ramai dengan canda ayah dan kelembutan ibu kini hanya sunyi. Nada tinggal bersama neneknya di rumah sederhana di pinggiran desa. Neneknya sudah renta, setiap hari bekerja keras mengurus rumah dan mencari nafkah kecil-kecilan.
Sering kali, malam-malam Nada menangis diam-diam di kamar kecilnya. Foto ayah dan ibu yang masih tersimpan di lemari usang ia peluk erat. “Aku rindu…” bisiknya lirih, berharap angin malam menyampaikan rindunya.
Di sekolah, Bu Molly—wali kelasnya—pernah memergoki Nada terisak di pojok kelas ketika teman-temannya sedang riang bermain. Dengan hati-hati, Bu Molly duduk di sampingnya.
“Nada, mengapa kamu menangis lagi?” tanyanya lembut.
Nada mengusap matanya dengan punggung tangan. “Saya rindu Ibu… rindu Ayah… tapi mereka tidak pernah datang menjenguk. Rasanya saya sendirian, Bu.”
Bu Molly menahan air matanya. Ia tahu, anak sekecil itu seharusnya tidak memikul rindu sebesar itu. Ia mengelus kepala Nada, seolah ingin menyalurkan kekuatan. “Kamu tidak sendirian, Nak. Ada nenekmu, ada ibu di sini, dan ada teman-temanmu. Suaramu yang indah itu… itu anugerah. Gunakanlah untuk membuat orang lain bahagia, dan percayalah suatu hari nanti kebahagiaan akan kembali padamu.”
Nada terdiam, hanya bisa mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
Meski berbakat, pelajaran matematika tetap menjadi batu besar di jalannya. Angka-angka seolah menari tanpa arti di buku catatannya. Ia sering mendapat nilai rendah, dan itu membuatnya sedih. Tetapi setiap kali hampir menyerah, ia teringat pada neneknya yang sering berkata, “Sekolah itu penting, Nak. Kalau kamu pintar, kamu bisa bantu nenek suatu hari nanti.”
Sejak itu, Nada belajar lebih giat. Walau nilainya belum tinggi, ia tidak lagi putus asa. Ia tahu, belajar bukan hanya soal angka di kertas, tetapi soal tekad untuk bangkit dari kesulitan.
Hari-hari terus berjalan. Di setiap lomba yang ia ikuti, Nada selalu menyanyi dengan penuh perasaan. Bukan sekadar merdu, tetapi sarat akan kerinduan dan harapan. Penonton yang mendengar sering kali terharu, meski mereka tidak tahu kisah di balik suara itu.
Suatu ketika, setelah penampilannya yang penuh penghayatan, Bu Molly berbisik lirih kepadanya, “Nada, suara indahmu adalah doa. Teruslah bernyanyi, teruslah berjuang. Suatu hari nanti, kamu akan membuat nenekmu tersenyum bangga, dan mungkin… ayah dan ibumu akan mendengar rindumu lewat lagu yang kamu nyanyikan.”
Malam itu, di kamarnya yang sederhana, Nada kembali menatap foto orang tuanya. Tapi kali ini ia tersenyum, meski matanya tetap basah oleh air mata. “Ayah, Ibu… tunggulah. Aku akan sukses. Aku akan membuat kalian bangga, dan aku akan membahagiakan nenek. Suatu hari nanti, kita pasti bertemu lagi.” Dan di keheningan malam, suaranya yang lembut kembali mengalun, membawa doa, rindu, sekaligus harapan—suara seorang anak kecil yang belajar kuat meski hatinya sering patah.
